24 July 2008

Dapat Tamu dari Jepang, Kok Masih Telat?

JAKARTA, KAMIS - Tepat waktu sepertinya bukan kebiasaan anggota dewan. Termasuk saat menerima tamu dari parlemen Jepang, Kamis (24/7) siang. Sedianya, pertemuan antara DPR (khususnya Komisi I) dan anggota Parlemen Jepang akan berlangsung pukul 14.00. Anggota parlemen Jepang sudah lebih dulu duduk di dalam ruangan Komisi I DPR, tempat pertemuan berlangsung. Sang tuan rumah malah datang belakangan.

Ketua Komisi I DPR, Theo L Sambuaga baru memasuki ruang Komisi I pukul 14.15 menjemput tamunya, dan membawa mereka ke ruang tamu Komisi I. Hingga pukul 14.40, acara belum juga berlangsung. Sebabnya, masih menunggu Ketua DPR Agung Laksono yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Padahal, ia dijadwalkan akan memberikan kata sambutan.Theo tampak mondar mandir ruangan, berkoordinasi dengan staf kesekretariatan dan beberapa orang dari perwakilan parlemen Jepang.

Pertemuan antar parlemen dua negara ini akan diisi dengan dua diskusi bertema "Sthrengthening Indonesia-Japan Political and Economic Cooperation" dan "Promoting Regional Cooperation to Achieve Peace, Development and Prosperity". Diskusi ini menghadirkan pembicara Didiek J Rachbini, Marzuki Darusman, Motoo Hayashi, dan Shigeyuki Tomita.

Kompas, Kamis, 24 Juli 2008 | 14:50 WIB.

                            

04 April 2008

Rok dan Celana Dalam Pemijat Wajib Bergembok

Rok dan Celana Dalam Pemijat Wajib Bergembok Kepala Satpol PP Kota Batu, Drs Imam Suryono mengatakan aturan baru ini sudah disosialisasikan kepada para pengelola panti pijat yang ada. Sementara ini, lanjut Imam, dari sembilan panti pijat yang ada baru dua panti yang sudah mewajibkan karyawannya memasang gembok di rok mereka sebelum melayani pelanggan. Dua panti itu adalah Panti Pijat Rini Jaya dan Panti Pijat Doghado di Jl Raya Beji Kota Batu.

"Memang, sampai saat ini kebijakan baru ini baru bersifat anjuran. Ke depan, kami akan melegalkan aturan ini menjadi kebijakan pemkot yang tertuang dalam peraturan wali kota," katanya kepada Surya, Rabu (2/4).

Dijelaskan, setelah resmi menjadi peraturan daerah (perda) aturan perarutan wali kota, pihaknya akan menerapkan sanksi kepada para pengelola panti pijat yang membiarkan pemijatnya tidak memakai gembok saat melayani pelanggan.

"Sebagai Kota Wisata, Batu tidak mungkin menghapus bisnis ini. Kebijakan yang bisa dilakukan adalah menjaga agar bisnis ini tidak diselewengkan sebagai bisnis esek-esek terselubung," paparnya.
Selama ini, bisnis panti pijat di Kota Batu tumbuh subur dan banyak diminati para wisatawan khususnya dari luar kota.

Selain memanfaatkan pelanggan dari luar kota, bisnis ini memiliki pelanggan tetap yang berasal dari Malang Raya. Ditambahkan, selama ini bisnis panti pijat di Kota Batu relatif tertib dan mematuhi semua aturan yang diterapkan Pemkot Batu.

"Buktinya, saat bulan puasa mereka selalu mengikuti aturan yang kami tetapkan agar tidak beroperasi di siang hari. Bahkan, sebagian panti pijat memilih tutup agar ketenangan melaksanakan ibadah bulan puasa tidak terganggu image negatif bisnis ini," bebernya.

Pantauan Surya, bisnis ini tergolong bisnis menjanjikan karena pelanggan yang setia memanfaatkan jasa para peramu pijat ini tidak hanya kalangan menengah ke bawah tetapi kalangan menengah ke atas.

Terbukti, lokasi pijat yang ada rata-rata dipenuhi para pelanggan berdasi dengan membawa kendaraan sedan mewah. Jika tidak diantisipasi sejak dini, bisnis ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana efektif bertransaksi esek-esek. Jika ini yang terjadi, kecocokan antara pemijat dengan pelanggan bisa berlanjut di luar panti dengan melakukan praktek prostitusi di luar tempat kerja mereka. (jan)

Tribun Jabar, Jumat, 04 April 2008, 10:06:41 wib

06 February 2008

Nyok Kite Jaga Jakarte ..

Perasaan Jakarta banjir mulu tiap tahun? Apa yang salah? Global Warming? Bisa aja, tapi dari hasil IPCC, udah ada risk management, mitigasi bencana dan segala macam catatan teknis untuk tanggap bencana. So, gak bisa disalahin juga kalo bencana alam datang dari alam.

Banjir itu emang selalu bencana alam yang dateng dari alam, dan bwat Jakarta, emang selalu rawan banjir. Orang Belanda juga udah pada nyadar itu. Rencana mengatasi banjir itu sudah ada dari jaman Belanda, dimulai dengan pembangunan banjir kanal barat, dan rencana pembangunan banjir kanal timur. Tapi itu rencana Belanda, untuk mengatasi banjir.

Tapi kemudian banjir tetap saja terjadi, apakah karena kemudian bangsa Indonesia tidak melanjutkan rencana Belanda tersebut? Sepertinya tidak juga, banjir kanal barat sudah ada, memang tidak pernah diperluas, tetapi, banjil kanal timur? Rencana tata kotanya sih sudah ada dari tahun 1973, dan sudah digali (sepanjang 7 km saja).

Jadi, salah di mana? Sesuatu yang bisa disalahkan secara mutlak adalah, kesalahan dalam penataan kota. Kota yang terlalu padat, kota yang tidak punya sistem irigasi yang baik, kota yang tidak bisa mendukung perkembangan yang .. wah .. sulit dikatakan. Bangunan baru terus berdiri, tapi, sungai-sungai, tetep aja kotor, penuh sampah dan tidak indah. Umyek deh.

Dari jaman Soekarno sudah pernah ada rencana untuk memindahkan ibukota negara ke Palangkaraya, ide yang bagus, biar bagi-bagi pusat keramaian. Tapi, rencana tinggal rencana, sekarang Jakarta adalah pusat pemerintahan, pusat ekonomi, pusat kehidupan seluruh negri di Indonesia. Kalau sudah banjir, semua ngerasain repotnya.

Solusinya? Belajar dari masa lalu aja kali ya? Dari Belanda untuk mengatur lagi kanal-kanal dan sungai, pengaturan pembuangan sampah, penataan daerah hijau, lah tapi? Terus orang-orangnya dikemanain? Belajar dari pemikiran jaman pak Karno lah, kenapa gak dicoba untuk memindahkan pusat pemerintahan? Biar gak padedet-dedet, semua ngumpul di Jakarta.

Baru-baru ini ada usulan supaya pusat pemerintahan dipindahin ke Jonggol, hmm .. pemikiran menarik, dan sebaiknya lebih cepat lebih baik, tapi kalau cuman sekedar cerita di ruang dewan? Bangsa kok hobinya muter-muter menghadapi masalah, mbok yao, berusaha supaya bisa keluar dari masalah.

Just a thought, lagian gw itu siapa sih, cuman orang kecil yang tinggal di daerah kumuh dan gak akan kedengeran suaranya, paling cuman bisa nulis di mblog. *grinning*

01 October 2007

Die Panzerin vs Joga Bonita

Wah, cuman denger berita, secara harusnya rame kalo diputer di tipi. Apaan tuh? Women's World Cup!! Kalo denger beritanya sih rame .. ceritanya ulangan final piala dunia 2002, Brazil vs Jerman, tapi sekarang versi ceweknya.

Dua-duanya adalah raksasa sepakbola, cowok maupun cewek. Bedanya, Brazil dengan Jogo Bonito adalah yang terbaik kalo untuk cowok, sedangkan Brazil yang cewek lagi berusaha untuk mendapatkan piala dunianya untuk pertama kali.

Jerman, kebalikannya, adalah juara bertahan, dan dengan prestasi enam kemenangan dalam turnamen, dengan gol defisit 21-0, maka Jerman yang cewek adalah raksasa di sepakbola, apalagi kemenangan di final diperoleh dengan meyakinkan, dengan mengandaskan joga bonita, 2-0.

Brazil bukannya tim kacangan, karena untuk mencapai final mereka menghantam USA 4-0, dan USA merupakan salah satu jawara sepak bola wanita. Tapi ya gitu deh, pemenang sudah ditentukan, dan Die Panzerin overrun Joga Bonita.

Huh, kok ya kalo di Indonesia, kapan ya bisa menonton permainan sepak bola bermutu, secara yang ngurusi aja kena jerat hukum mulu, jadi kapan sempetnya membuat permainan sepakbola menjadi bermutu?

17 September 2007

BeethovenFest & Anak-Anak Miskin

Pengen banget nonton BeethovenFest di Bonn 2007, tapi apa daya .. jauh eui kl kudu pergi ke Bonn .. hix hix .. Jadi ya udah, nonton seadanya dari Deutsche Welle-TV. Lumayannn .. Dari sekian banyak penampil, ada satu yang menarik, namanya Simón Bolívar Youth Orchestra of Venezuela .

Simón Bolívar Youth Orchestra of Venezuela , dari namanya, udah pasti dari negeri Venezuala. Di sono noh, di Amerika Latin. Kerennya lagi, anggota orkestra ini adalah anak-anak remaja, yang dibina karena mereka anak-anak miskin. Benar-benar miskin, dari daerah coret Caracas, Venezuela. (Kata TV lho). Kok bisa yah, anak-anak gitu dibina ikut musik klasik sampai bisa tampil di luar negri, menampilkan Symphony No. 3 in E flat major, op. 55

Kalau negara lain bisa, bagaimana dengan Indonesia? Secara, anak-anak yang secara ekonomi lemah itu banyak, sampai yang ngamen di perempatan itu gak kehitung jumlahnya, (karena emang gak pernah ngitungin). Dibilang gak bisa bermain musik, bagus-bagus kok main biola-nya. Kenapa gak dibina saja, alih-alih keluyuran di jalan?

Mungkin gak harus musik klasik, atau sesuatu yang udah dicoba di luar negeri, tapi apa kita tega membiarkan itu anak-anak keluyuran di jalanan tanpa tahu harus ngapain, kecuali keluyuran sambil ngamen? Apa emang gak ada cara memberdayakan mereka, alih-alih memperdayakan mereka? Apa karena emang kita sendiri yang suka tidak perduli sama nasib anak-anak itu? Apa karena?

Weh, ndenger berita kalau di Jakarta, bakal adanya perda yang melarang memberi sedekah buat pengemis di jalan, kalau tertangkap tangan lagi memberi sedekah, atau sekedar ngasih buat yang ngamen, atau apapun bentuknya, bakal kena denda. Aneh bin lucu aja, emang bakal bisa mengatasi permasalahan anak-anak yang kurang beruntung di jalan itu? Apakah itu bisa jadi solusi instan? Apa gak menimbulkan masalah yang baru? Gak tau juga yah, yang pasti kalau memang mau solusi elegan, mengantar anak-anak itu ke tingkat internasional seperti anak-anak Venezuela itu bisa dicontoh, kalau memang niat.

07 September 2007

nyanyi, ngedance bareng Dewi-Dewi

Suasana hingar bingar alunan musik yang cukup rancak mengetarkan kolam renang Hotel Singasana, Kamis (6/9). Hadirin yang berada di dekat stage, larut dalam jingkak-jingkrak ngedance dan nyanyi bareng-bareng. Begitulah suasana yang terekam saat Gala Dinner Peserta OSN VI. Malam itu kehadiran penyanyi Dewi-Dewi, memang menjadi surprise tersendiri karena tidak diduga hadirin.
Panggung hiburan ini terlebih dahulu diawali dengan jamuan makan malam yang yang ditata ala garden party di halaman belakang Hotel Singasana. Penataan panggung serta nyala lilin yang ditata di dalam kolam renang, menambah suasana menjadi semakin eksotis. Semua hadirin pun bebas memilih makanan yang disajikan di sekeliling stage.
Sebelum penampilan Dewi-Dewi, terlebih dulu tampil tarian dan band dari SMP Negeri 6 Surabaya. Dengan dipandu presenter Ivan dan Mety, suasana Gala Dinner pun menjadi semakin heboh dan meriah.
Penampilan penyanyi Dewi-Dewi di stage yang berada di antara kolam renang itu, memang menjadi pamungkas rangkaian acara Gala Dinner. Dengan membawakan 7 lagu berturut-turut, personel Dewi-Dewi mampu menghibur semua hadirin. Dewi Dewi yang beranggotakan Purie, Tata, dan Carolina (Ina), melantunkan lagu-lagu diantaranya daur ulang Dewa yang terkenal seperti Roman Picisan, Siti Nurbaya, Separu Nafas
Penonton yang berada di depan stage pun, saling berebut mengabadikan dewi-dewi menggunakan hp camera, camera digital maupun handycam. Itu dilakukan murid dan guru yang menyatu di depan panggung.
Suka cita peserta, pendamping dan panitia OSN VI malam hari itu, memang menjadi puncak kegembiraan sebelum seluruhnya mengikuti upacara penutupan yang digelar Jumat (7/9), di Auditorium Kampus c Unair. Seluruh hadirin yang terdiri murid dan guru menyatu dalam hentakan irama musik yang mengiringi penampilan Dewi-Dewi.
Suasana heboh terlihat saat Dewi-Dewi membawakan album yang sedang hit sekarang ini berjudul dokter cinta. Semua yang hadir tampak ikut larut dan ikut menyanyi serta mengikuti dance Dewi-Dewi. Dengan berakhirnya lagu dokter cinta pun, jamuan gala dinner pun berakhir dan peserta kembali ke masing-masing penginapan dengan menggunakan bus yang sudah disediakan. (dwi)

Sumber: http://www.dikbud-jatim.com/dewi-dewi-osnvi.html

16 August 2007

Keperawanan 3.500 Siswi Diperiksa Bupati Indramayu

Rabu 15 Agustus 2007, Jam: 9:51:00
INDRAMAYU (Pos Kota) - Beredarnya video mesum yang diperankan sepasang pelajar SMA di Indramayu, membuat gerah Bupati Indramayu dan pejabat muspida lainnya. Bupati H Irianto MS Syarifudin lalu bikin gebrakan akan memeriksa keperawanan sekitar 3.500 siswi SMP dan SMA atau sederajat di seluruh Indramayu.

"Pemeriksaan bertujuan memberitahukan orangtua siswa soal status keperawanan anak gadisnya," ujar Bupati Indramayu H Irianto MS Syarifudin di sela-sela pembakaran 2.600 buku sejarah di Kantor Kejari Indramayu, Selasa (14/8).

Jika hasil pemeriksaan medis diketahui terdapat siswi SMP/Mts dan SMA/SMK/MA tidak perawan lagi atau kegadisannya sudah hilang, maka orangtuanya akan dipanggil sekolah.

"Orangtuanya akan diingatkan untuk lebih waspada dalam mendidik putrinya sehingga jangan hanya bisa menyalahkan sekolah atau gurunya saja," kata Bupati Irianto MS Syarifudin.

Sedangkan teknis pemeriksaan akan dirapatkan dengan sekretaris daerah, bagian hukum, dinas kesehatan, pendidikan dan isntasi terkait. "Yang jelas tidak mungkin dilakukan di Puskesmas karena minimnya peralatan," papar bupati.

DITENTANG ORANGTUA MURID
Rencana Bupati Indramayu ini terbilang langka dan bikin kaget orangtua siswi. Bagaimana tidak, jumlah siswi yang bakal diperiksa keperawannya itu tak tanggung-tangung mencapai 3.500 siswi. Mereka itu adalah siswi kelas I, II, dan III SMA/SMK/MA dan siswi kelas III SMP/Mts. Sejumlah orangtua siswi kaget dan banyak menentang rencana ini.

Tidak sedikit walimurid yang menentang rencana ini dengan alasan keperawanan adalah masalah pribadi yang sensitif. Seperti dilontarkan Likin,56, seorang walimurid di Desa Heurgeulis yang mengatakan, rencana pemeriksaan keperawanan itu merupakan langkah mundur dan tidak tepat, sebab masalah keperawanan tidak ada hubungannya dengan pendidikan.

Jika wacana itu direalisasikan, lanjutnya bakal mengundang perdebatan panjang bukan hanya oleh kaum hawa di Indramayu tapi juga secara nasional.

"Pemeriksaan keperawanan siswi bisa dianggap merendahkan gender wanita dan akan menjadi bahan olok-olokan," kata Likin.

Sedangkan Ganda,54 warga Kecamatan Cikedung mengatakan, tak yakin Pemkab Indramayu bakal merealisasikan rencana tersebut. "Resikonya sangat tidak kecil, tapi kalau mau menanggungnya, yaa… silakan," ujarnya.

Sementara walimurid lainnya Sumantri,49, menjelaskan rencana ini akan membuat siswa yang ketahuan tidak perawan akan menanggung beban yang teramat berat. "Siswi yang dinyatakan tidak perawan bakal menanggung beban mental yang maha berat baik dari teman sekolah, saudara, orangtua, tetangga dan lingkungannya," jelasnya.

Menanggapi penolakan wali murid ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu H. Suhaeli, M.Si, mengatakan, adalah hak walimurid untuk menolaknya. "Penolakan itu adalah hak pribadi mereka, kami tidak dapat memaksakannya dan akan saya sampaikan ke Bupati Indramayu," ujarnya.

BAKAL SIA-SIA
Rencana Pemkab Indramayu, menurut Koensatwanto Impasihardjo, Sekretaris Utama Menteri Pemberdayaan Perempuan adalah tindakan sia-sia, diskriminatif, dan tidak tidak memiliki dasar hukum yang jelas.

"Kalau terbukti siswi tersebut tidak lagi perawan, lantas apa yang akan dilakukan oleh Pemda? Melarangnya sekolah, tentu itu melanggar hak asasi," tutur Koen.

Selain itu, lanjut Koen, kalau benar mau diberlakukan, siswa yang di tes keperjakaannya. Tetapi dia mengingatkan sebaiknya rencana itu dibatalkan, sebab bakal menimbulkan protes dan mengganggu stabilitas pendidikan. "Munculnya video porno jangan dijadikan alasan utama, tapi dibutuhkan solusi agar siswi tidak melakukan seks bebas dengan pendidikan moral dan agama," paparnya.

Penolakan serupa dikemukakan Wakil Ketua PP Muslimat NU Gefarina Djohan yang secara tegas menolak rencana tersebut. "Perawan atau tidak adalah sesuatu yang sangat privacy. Membeberkan rahasia orang adalah aib. Dan itu tidak boleh dalam hukum agama," papar Gefarina.

Selain membeberkan aib orang, tes keperawanan juga tindakan yang tidak adil. Sebab seks tidak hanya melibatkan perempuan, tetapi juga laki-laki. "Lantas bagaimana dengan laki-laki, apa juga ada tes kejantanan," tandas Gefarina.

04 August 2007

Tidak Sanggup Mengurus dan Membiayai, Anak Durhaka Buang Ibu Kandungnya di Stabat

Sungguh malang nasib nenek tua renta Sumiati (90) warga Simpang 4 Pinang Baris Kecamatan Sunggal ini. Ia dibuang anak kandungnya di bawah pohon kuini dekat Mesjid Raya Stabat Kabupaten Langkat sejak Sabtu (28/7).
Nenek Sumiati yang ditemui wartawan di Mesjid Raya Stabat Langkat menuturkan, sebelum dirinya “terdampar” di kota Stabat, ia menetap di rumah salah seorang anaknya di Sunggal. Dihimpit kehidupan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, anak itu tega membuang ibu yang melahirkanya jauh dari keluarga, anak dan cucu-cucunya.
“Aku dibawa naik mobil jalan-jalan tanpa tahu tujuannya. Di dalam perjalanan anak saya sempat berpesan aku akan dibuang karena tidak sanggup lagi mengurusinya. Dengan pasrah sebelum dibuang aku berpesan pada anak agar menitipku di salah satu masjid,” ujar Sumiati sambil menangis.
“Kalau aku diusir dari rumah, tolong antarkan aku dekat mesjid saja,” ujar Sumiati berulang kali sambil mengusap air mata yang terus mengalir sambil tertunduk sedih menyesalkan perbuatan anaknya yang menelantarkanya.
Memenuhi permintaan ibunya tersebut, anaknya bersama seorang sopir mobil yang dicarternya itu, kemudian menurunkan ibunya di samping Mesjid Raya Stabat persisnya di bawah pohon kuini di samping Masjid tersebut. Aku ditinggal sendirian di atas selembar tikar di bawah pohon itu,” kata nenek tersebut sambil menunjuk ke arah pohon yang dimaksud.
Menjelang sore, sejumlah jamaah masjid yang mengetahui keberadaan sang nenek dengan kondisi yang mengenaskan itu, membopongnya ke rumah kosong yang selama ini dijadikan gudang. Meskipun diperlakukan demikian, Sumiati bermohon pada Allah agar membukakan pintu hati kedua anaknya untuk segera bertobat sebelum menerima azab dariNya.
“Aku tetap berdoa semoga kedua anak-anakku tetap menjengukku meskipun mereka telah membuangku jauh-jauh. Walau bagaimanapun mereka itu tetap darah dagingku,” kenang sang nenek.
Bupati Langkat H Syamsul Arifin SE sesaat mendengar peristiwa yang memilukan itu langsung memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan Langkat dr H Indra Salahuddin M Kes MM, Rabu (1/8) untuk membawa ibu malang tersebut ke RSU Tanjung Pura agar dirawat sebaik-baiknya.
”Kita merasa sedih karena  di dunia ini masih ada anak yang tega menelantarkan ibu kandungnya sendiri,” ucap bupati.
Saat mengevakuasi nenek itu, dr Indra sempat menuturkan, akan merawat ibu malang itu sampai sembuh dan juga akan mencari keluarganya kembali. Kalaupun keluarganya tidak mengakui lagi ibu ini, ia akan dikirim ke Panti Jompo.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, Sumiati sempat melambaikan tangan dan berpesan agar menitipkan salam dan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah memperhatikanya dan khususnya kepada Bupati Langkat H Syamsul Arifin SE yang telah rela membantu dan memperhatikan dirinya. Dia berharap semoga Allah dapat membalas semua budi kebaikan yang telah diberikannya. (M27/t)

Diangkat dari Berita di Harian Sinar Indonesia Baru Online, edisi 1 Agustus 2007.

28 July 2007

Nightwish - Sleeping Sun, End of Tarja, Hope for Anette

Setelah sekian waktu ngubek-ngubek internet, akhirnya dapet juga Sleeping Sun, vid-clip-nya Nightwish, tapi yang versi kedua (Second Release, 2005).

Secara, lagu ini termasuk all-time favorit gw; jadi gw pikir, paling beda di film-nya doank. Tapi, mumpung lagi dapet sambungan internet ber-pita lebar, cari donlotan ahhhh ..

Kalau yang rilis pertama (1999), vid-clip-nya memperlihatkan lanskap pemandangan alam Finlandia. Pemeran utamanya si Tarja (Tarja Turunen, vokalis Nightwish, sampai 2005). Dan, gw harus ngakuin, Tarja begitu menyatu sama lagu itu, manjur banget, cespleng gitu dech. Belum lagi dengan suaranya yang orkesraik. Bener-bener la magia.

Terus vidclip yang kedua? Jreng jreng .. uh oh .. perasaan sleeping sun tuh mellow-mellow gitu dech? Terus apa hubungannya dengan adanya perang dari masa abad pertengahan??? Terus ada ksatria Teutonik? Nah lho?? Gw lagi nonton LOTR?

Yang lebih mengejutkan lagi, koq suara Tarja 'sepertinya' berubah? Gak tau yah, ini sih perasaan gw saja. Tapi gw gak merasakan lagi vibrasi, power dan keajaiban Tarja? Uh well .. Pilihan lain-nya adalah, puter video dengan gambar yang baru, tapi suara-nya pake release yang lama ... Caranya? Media player di mute, terus Winamp disetel kenceng2, usahakan untuk sinkron .. :))

Ironi sih, tapi itu kan Tarja yang sama dengan release pertama? What is wrong kunaon? Selidik punya selidik, ternyata pada waktu vidclip ini di release, dua hari kemudian, Tarja dipecat dari Nightwish!! *sob*

Sudah jadi rahasia umum, kalau pemecatan Tarja sempat jadi headline news (di sono nohh), Nightwish itu Tarja, Tarja itu nightwish. Eh, iya gitu? Gak tau juga, gw sih bukan fans berat Nightwish; ada sih satu dua tiga lagu yang gw suka. Tapi ya sudah, bosen sama Nightwish, ada Tristania, bosen Tristania, setel Within Temptation, bosen sama female metal, ganti sama yang laen2 lagi. Banyak pilihan.

Balik lagi soal Tarja & Nightwish, sempet sih gw kepikir, ya udah kalau mau bubar ya bubar aja. Gitu aja koq repot. Emang sih, yang mendirikan Nightwish bukan Tarja, tapi siapa yang kenal Nightwish pasti ngeuh sama Tarja.

Ternyata, Nightwish belum mati, 25 Mei 2007, Nightwish mengumumkan vocalis barunya. Namanya Anette Olzon dari Swedia. Yeah yeah .. another female gothic metal or so alike voice?

Sempat apatis sih, paling ya gitu-gitu juga; ternyata single barunya Nightwish (dengan vokalis baru) sudah di release, judulnya Eva; jadi yahh .. donlot ajah sekalian, mumpung ada. Dan ..

Jreng jreng (lagi) .. oh .. uh .. eh ..ah .. *speechless* .. Mungkin, Eva sama mellow-nya dengan Sleeping-Sun, tapi .. karakter suaranya beda banget!! Anette juga punya keajaibannya sendiri. Suaranya sih, di satu sisi, lebih berasa Tarja, bisa lah suruh nyanyi opera. Apalagi kalau soal kompleksitas lagu, uh itu modulasi di Sleeping-Sun emang keren bangget. Empat jempol bwuat Tarja.

Tapi, ini bener-bener beda!! Eva sepertinya cucok bwat karakter suara Anette, tanpa harus menggunakan tenaga lebih, gak pake cengkok yang aneh2, atau apalah yang teknik yang ajaib. Tapi suara yang bening, intonasi yang jelas, vibrasi yang 'pas', apalagi dengan standar bahasa yang aslinya bukan bahasa Inggris (orang Swedia). Anette punya keajaibannya sendiri.

Sementara sih, mungkin Anette belum memperlihatkan sesuatu yang heboh, apalagi kalau disuruh bawain lagu-lagu Tarja yang butuh power (sebut misalnya End of All Hope), bisa jadi Anette kerepotan, atau malah bisa membawa warna baru? Pastinya, mari kita beri kesempatan bwat Anette.

Menarik untuk mencermati, bakal gimana album baru Nightwish yang bakal dirilis Agustus ini. Apakah kita mendapati Nightwish yang baru? Atau hanya:

sleeping .. weeping with you .. (Sleeping Sun - Oceanborn, Nightwish, 1999/2005).

22 June 2007

Menuduh dan Ngeles

Sekedar keinget kl di Indonesia itu seringkali terjadi, kalau ada orang dituduh praktek perdukunan, pasti diserbu, terus dibunuh dengan brutal .. *ugh* ..

Tapi pembunuhan dukun itu juga bukan monopoli orang Indonesia. Dari jaman abad pertengahan juga sudah ada pembakaran para penyihir di Eropa. Jadi, memang sudah dari sananya, manusia lebih suka menuduh dan menghukum. Yah, lebih mudah melemparkan kesalahan untuk orang lain. Yeah, i am innocent, am i not?

Kenapa manusia tidak 'talking some sense'? Mungkin, semua peradaban di Bumi ini mengajarkan kebaikan, dengan sistem pengadilan, menggunakan pertimbangan yang baik dan benar. Tapi, terlalu membosankan mungkin. Balik lagi, sudah jadi naluri manusia, untuk bergerak spontan. Pengadilan bahkan kemufakatan membosankan, bahkan bisa dimanipulasi. Jadi, gimana dengan korbannya?

Korban akan selalu jadi korban, hanya keajaiban langit saja yang bisa menuntaskan masalah. Sejarah selalu mencatat, bahwa banyak orang 'tidak bersalah' selalu menjadi korban, apapun alasannya. Dan orang-orang yang berkepentingan untuk bisa memilah benar atau salah pun hanya berputar-putar.

Jadi ingat, ketika Sir Bedevere sedang menyidangkan seorang tersangka penyihir, cara menyidangkan yang 'hillarious' ini yang membuat Raja Arthur terkesan dan merekrut-nya menjadi Ksatria Meja Bundar. Oh boy, legenda Arthurian adalah cerita lain, lagian ini cuman dari film "Monty Python & The Holy Grail", neverteless, refleksinya jg kebawa sampai sekarang, bahkan sampai yang kecil2, kasus korupsi Medan Jaya, ata mau kasus yang gede2, korupsi di negri Indonesia? Atau hanya sekedar membela diri, "hey i am innocent! Let's put the guilt on anywhere else" .. noo .. yeah, hell .. that's way too far, i just like the conundrum.

Dan, inilah skrip-nya:

Sir Bedevere: There are ways of telling whether she is a witch.
Peasant 1: Are there? Oh well, tell us.
Sir Bedevere: Tell me. What do you do with witches?
Peasant 1: Burn them.
Sir Bedevere: And what do you burn, apart from witches?
Peasant 1: More witches.
Peasant 2: Wood.
Sir Bedevere: Good. Now, why do witches burn?
Peasant 3: ...because they're made of... wood?
Sir Bedevere: Good. So how do you tell whether she is made of wood?
Peasant 1: Build a bridge out of her.
Sir Bedevere: But can you not also build bridges out of stone?
Peasant 1: Oh yeah.
Sir Bedevere: Does wood sink in water?
Peasant 1: No, no, it floats!... It floats! Throw her into the pond!
Sir Bedevere: No, no. What else floats in water?
Peasant 1: Bread.
Peasant 2: Apples.
Peasant 3: Very small rocks.
Peasant 1: Cider.
Peasant 2: Gravy.
Peasant 3: Cherries.
Peasant 1: Mud.
Peasant 2:
Churches.
Peasant 3: Lead! Lead!
King Arthur:
A Duck.
Sir Bedevere: ...Exactly. So, logically...
Peasant 1: If she weighed the same as a duck... she's made of wood.
Sir Bedevere: And therefore...
Peasant 2: ...A witch!